Lima Hal Penting dalam Mewujudkan Pendidikan Berkualitas
Menyelenggarakan sebuah sistem pendidikan yang berkualitas,
efektif, dan komprehensif sehingga dapat menghasilkan output atau sumber daya
manusia yang juga berkualitas, berdaya saing tinggi dan sesuai dengan kebutuhan
bangsa ini adalah tujuan kita bersama. Untuk itu, dalam memandang dan menyelesaikan
berbagai macam masalah dan problematika pendidikan yang ada di Indonesia, kita
harus menyikapinya secara menyeluruh, tidak bisa hanya salah satu atau sebagian
saja. Setiap komponen yang ikut menentukan kualitas pendidikan di Indonesia
harus sama-sama dibenahi, mulai dari visi yang ingin dicapai, kurikulum
pendidikan, kualitas pengajar, sarana dan prasarana pendidikan, sampai kepada
keadan peserta didik itu sendiri.
Kalau boleh saya menarik sebuah analogi, sistem pendidikan
itu ibarat sebuah rangkaian perjalanan yang wajib dipersiapkan segalanya sebaik
mungkin apabila ingin mencapai tujuan yang hendak dicapai. Rangkaian itu antara
lain:
1. Visi, itu ibarat tujuan/lokasi yang hendak dituju,
ingin seperti apa dan ingin menghasilkan apa pendidikan kita dalam jangka
pendek, menengah, dan jangka panjang.
2. Kurikulum, itu ibarat sebuah buku pedoman atau peta
penunjuk jalan, harus bagaimana kita melangkah dan harus melalui jalur mana dan
bagaimana untuk mencapai tujuan itu.
3. Kualitas Pengajar/guru, mereka ibarat supir yang
akan membawa atau mengatur kendaraan menuju lokasi tujuan dengan berpedoman
kurikulum atau peta pedoman tadi. Mereka inilah faktor penentu sampai atau
tidak, cepat atau lambat sampai di lokasi tujuan (visi).
4. Sarana Fisik Pendidikan, ini ibarat kendaraan yang
akan digunakan. Kalau kendaraan baik dan terawat, maka perjalanan akan lancar
dan mudah sampai di tujuan. Sebaliknya, jika kendaraan rusak atau terbengkalai,
maka perjalanan akan menemui banyak kendala.
5. Peserta didik, mereka ini ibarat penumpang yang akan
kita antarkan untuk sampai dengan tepat di tujuan yang telah ditetapkan.
Melalui tulisan ini, izinkan saya untuk menjabarkan secara
singkat pandangan dan mungkin solusi saya mengenai kelima hal pokok di atas
yang menentukan dalam sebuah proses pendidikan.
1. Visi Pendidikan Indonesia
Seperti yang telah saya jabarkan di atas, visi ini adalah
tujuan. Pemerintah, dalam hal ini kementerian pendidikan dan kebudayaan wajib
untuk menentukan arah yang jelas, apa yang hendak dicapai dan output seperti
apa yang hendak dihasilkan dari sebuah proses pendidikan di Indonesia. Dan yang
terpenting menurut saya adalah penyatuan visi untuk seluruh wilayah di
Indonesia. Jangan sampai masing-masing daerah ini seperti bergerak
sendiri-sendiri tanpa arah tujuan yang jelas. Penyatuan visi ini nantinya
diharapkan dapat menghasilkan lulusan atau sumber daya manusia yang
berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan bangsa dan negara Indonesia.
Setelah menentukan satu visi yang pasti, tugas pemerintah
selanjutnya adalah memastikan agar visi ini tersampaikan dan diketahui dengan
baik oleh seluruh pemangku kepentingan pendidikan di seluruh wilayah Indonesia,
seperti Gubernur, Kepala Dinas, sampai kepada guru-guru atau para pengajar yang
langsung bersentuhan dengan peserta didik. Atau mungkin, peserta didik itu
sendiri juga perlu untuk mengetahui visi pendidikan di Indonesia. Jika semua
pihak telah mengetahui serta memahami visi atau tujuan yang hendak dicapai,
diharapkan proses belajar-mengajar di sekolah-sekolah nantinya bukan hanya
sebuah formalitas atau sebuah kegiatan rutin yang tanpa arah, namun diharapkan
semua pihak mampu untuk bekerja sama dan saling berintegrasi untuk sama-sama
mencapai tujuan tersebut.
Pemahaman akan visi ini juga teramat penting dimiliki oleh
seorang guru yang mengajar di sekolah, karena mereka adalah pilar terdepan
dalam menyukseskan berbagai program-program pendidikan di Indonesia. Ketika
seorang guru telah memahami visi yang hendak dicapai, maka mereka akan merasa
memiliki tanggung jawab besar untuk membantu anak didik mereka menggapai apa
yang dicita-citakan, sehingga seorang guru tidak hanya mengajar, memberi
materi, dan tidak asal “yang penting murid saya lulus semua”, tetapi mereka
ikut merasa bertanggung jawab akan seperti apa anak didik mereka setelah lulus
nanti.
2.Kurikulum
Menggunakan pedoman kurikulum inilah, seorang guru mengambil
acuan dalam merencanakan dan membuat program-program yang akan mereka terapkan
di dalam proses belajar mengajar sehari-hari di sekolah. Untuk itu, seharusnya
kurikulum pendidikan di Indonesia harus dibuat dengan memperhatikan dan
menampung aspirasi dari para guru tersebut.
Berbeda dengan penetapan visi yang bisa dilakukuan atau
direncanakan oleh tingkat pusat saja, dalam penetapan atau pembentukan sebuah
kurikulum, pemerintah haruslah mau mendengarkan suara-suara dari seluruh daerah
yang ada di Indonesia dan juga memperhatikan kebutuhan masyarakat, karena
tiap-tiap daerah mempunyai karakteristik masing-masing. Pembentukan kurikulum
janganlah sentralistik dilakukan hanya di Jakarta saja, karena belum tentu
daerah-daerah lainnya bisa mengikuti dan menyesuaikan dengan baik. Karenanya
kedepan, pemerintah bisa mengundang perwakilan para guru dari seluruh daerah di
Indonesia dengan membawa aspirasinya masing-masing, sehingga bisa dibentuk
sebuah kurikulum yang sesuai kebutuhan di bawah, fleksibel, dan bisa
diterapakan di masing-masing daerah.
Demi mendapatkan sebuah pendidikan yang berkualitas, haruslah
dibentuk sebuah kurikulum yang lebih menekankan pada interaksi dua arah antara
guru dengan murid. Jangan lagi sebuah kurikulum dengan sistem Top-Down, yaitu
murid sebagai objek pasif yang hanya menerima saja apapun yang disampaikan guru
kepada murid, otak murid seperti brangkas ilmu yang diisi oleh guru, murid hanya
menampung apa saja yang disampaikan oleh guru. Menurut saya, sistem seperti ini
mungkin memang bisa menghasilkan orang-orang cerdas, namun tidak akan bisa
untuk menghasilkan orang-orang kreatif. Mungkin perlu dibentuk sebuah kurikulum
dimana keberadaan guru di dalam kelas itu ibarat seorang moderator atau
juri/wasit yang bertugas mengawasi diskusi atau interaksi diantara para peserta
didik.
3. Kualitas Pengajar/Guru
Harus ada perubahan paradigma atau mindset dari para guru
yang ada di republik tercinta ini jika kita ingin mendapatkan guru-guru yang
berkualitas. Selama ini banyak para guru yang berpikiran bahwa menjadi seorang
guru itu sama dengan profesi-profesi lainnya, berangkat bekerja, lalu mengajar
dikelas, kemudian pulang kembali ke rumah, tanpa memikirkan tanggung jawab
apakah murid-murid tadi sudah mengerti semua atau belum.
Harus dibentuk sebuah pemikiran bahwa menjadi guru itu
pekerjaan mulia yang lebih dari profesi-profesi lainnya, karena semua profesi
yang ada di dunia ini pasti berawal dari sebuah pendidikan yang diberikan oleh
seorang guru. Namun saya juga memahami, bahwa guru juga merupakan manusia biasa
yang tentu mempunyai banyak kebutuhan dalam hidup, inilah yang menjadi tugas
pemerintah untuk menjamin kesejahteraan seorang guru. Sehingga para guru ini
bisa menjalankan tugas sebaiknya-baiknya dalam mengemban amanah untuk
mencerdaskan kehidupan bangsa, tanpa harus disibukkan dengan hal-hal lain hanya
demi menambah penghasilannya.
Dalam hal belajar-mengajar sehari-hari, seorang guru haruslah
mampu untuk mengenali dan menggali berbagai potensi yang ada dalam diri para
peserta didiknya. Seorang guru tidak bisa hanya memaksakan kehendaknya tanpa
memperhatikan kebutuhan, minat, dan bakat yang dimiliki oleh peserta didik.
Seorang guru harus mampu mengenali dan menggali masalah dan potensi seorang
anak. Sehingga para peserta didik akan merasa nyaman seperti berada dirumah
sendiri serta akan merasa seperti berhadapan dengan orang tuanya sendiri saat
berhadapan dengan gurunya di sekolah.
Uji kompetensi untuk para guru juga perlu dilakukan secara
berkala, karena tantangan dan pengaruh zaman yang terus berubah dan terus
bergerak, maka seorang guru tidak bisa hanya menggunakan ilmu yang itu-itu saja
yang mungkin sudah berpuluh-puluh tahun lalu mereka dapatkan. Perlu ada
aktualisasi diri yang dilakukan oleh para guru demi menghadapi tantangan zaman
atau menghadapi tipe-tipe peserta didik yang pasti terus mengalami perubahan.
4. Sarana Fisik Pendidikan
Tujuan yang jelas, pedoman penunjuk jalan yang memadai, dan
supir yang handal mungkin akan terasa percuma dan sia-sia jika kendaraan yang
digunakan tidak dalam kondisi baik. Seperti itulah analogi yang mengibaratkan
pentingnya sarana fisik pendidikan sebagai salah satu elemen penunjang untuk
mewujudkan pendidikan yang berkualitas. Masih banyak masalah-masalah yang harus
dihadapi oleh pemerintah dalam menjamin kenyamanan proses belajar mengajar.
Tidak perlu jauh-jauh, di Jakarta saja yang merupakan ibukota
negara, masih ada sekolah-sekolah yang roboh. Kasus terakhir adalah yang
menimpa SDN 03 Rawamangun, atap sekolah dasar tersebut tiba-tiba saja roboh.
Banyak yang menduga itu disebabkan oleh kenakalan pemborong yang menggunakan
bahan-bahan material bekas demi meraup keuntungan yang lebih besar. Menghadapi
hal-hal semacam inilah diperlukan ketegasan pemerintah, termasuk keberanian
pemerintah dalam melawan para mafia tanah yang banyak mengancam keberadaan
gedung-gedung sekolah di beberapa daerah termasuk juga di DKI Jakarta.
Selain gedung sekolah, keberadaan sarana penunjang proses
belajar mengajar lainnya disekolah juga perlu mendapatkan perhatian yang
serius. Seperti kelengkapan buku di perpustakaan agar para siswa mudah untuk
mendapatkan bahan bacaan, kelengkapan alat-alat dan standardisasi laboraturium
ilmiah, dan juga kelengkapan laboratorium teknologi informasi dan bahasa, yang
seharusnya pada era sekarang ini sudah harus dilengkapi oleh jaringan internet
agar para perserta didik dapat mendapatkan informasi seluas-luasnya demi
menambah wawasan mereka.
5. Peserta Didik
Seperti analogi pada pembukaan tulisan ini, peserta didik itu
ibarat para penumpang yang wajib diantarkan sampai kepada tujuan. Namun
terkadang para penumpang ini sering membuat gangguan dan kegaduhan yang dapat
menghambat kelancaran perjalanan.
Dalam konteks nyata dunia pendidikan kita, gangguan itu
adalah berupa kenakalan-kenakalan remaja pada saat ini, seperti tawuran antar
palajar/mahasiswa, banyak pelajar yang bolos sekolah akibat minat belajar
kurang, “trek-trekan” atau kebut-kebutan di jalan raya, dll yang bisa
menghambat proses belajar-mengajar di sekolah.
Di usia-usia wajib belajar 12 tahun ini, seorang siswa memang
sedang masa-masanya untuk mencari jati diri, kenakalan-kenakalan tersebut
memang sudah hampir pasti akan mampir di masing-masing individu pada saat itu,
jadi tidak sepenuhnya para siswa ini bisa disalahkan. Institusi sekolah dan
para guru juga wajib untuk instropeksi terhadap metode pengajaran yang telah
diberikan kepada para siswanya. Yang terpenting untuk dipikirkan adalah bagaimana
untuk menyalurkan jiwa-jiwa muda yang sedang bergelora ini kepada hal-hal
positif yang bisa mendatangkan manfaat baik untuk pribadi mereka sendiri
ataupun bagi dunia pendidikan di Indonesia.
Contoh: bagi mereka yang suka tawuran atau suka berkelahi,
kita buatkan saja kegiatan ekstrakurikuler tinju, kita buatkan mereka ring yang
sah, sehingga mereka bisa bertarung secara sportif. Siapa tahu memang diantara
mereka itu ada yang memiliki bakat untuk menjadi seorang atlet tinju.
Contoh lain, bagi mereka yang suka otomotif dengan cara yang
salah, yaitu dengan “trek-trekan” atau kebut-kebutan di jalan atau bagi yang
suka memodifikasi kendaraannya, kita coba saja buatkan mereka kegiatan
ekstrakurikuler otomotif lengkap dengan bengkelnya sebagai laboratorium mereka
untuk mencoba berinovasi. Siapa tahu dari situ mereka bisa melahirkan
inovasi-inovasi baru yang mungkin berguna bagi banyak orang, seperti pelajar
SMK di Solo dengan mobil Esemka-nya.
Demikianlah penjabaran singkat saya mengenai lima hal yang
berperan penting dalam meningkatkan mutu pendidikan di negara Indonesia
tercinta ini. Peran pemerintah saja tidak akan cukup untuk mewujudkan
pendidikan yang berkualitas, perlu peran serta dari seluruh masyarakat
Indonesia agar pendidikan di negeri ini dapat menghasilkan sumber daya manusia
yang mempunyai daya saing global sehingga dapat membawa negeri ini menuju
kejayaan dan kemakmuran. Dan semoga saja Gerakan Indonesia Berkibar ini bisa menjadi salah satu wadah
partisipasi masyarakat luas dan juga garda terdepan dalam mendukung kemajuan
pendidikan di Indonesia. Amiinnn.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar