Selasa, 14 Mei 2013

Hal penting dalam Mewujudkan Pendidikan Berkualitas


Lima Hal Penting dalam Mewujudkan Pendidikan Berkualitas
Posted on December 21, 2012
Menyelenggarakan sebuah sistem pendidikan yang berkualitas, efektif, dan komprehensif sehingga dapat menghasilkan output atau sumber daya manusia yang juga berkualitas, berdaya saing tinggi dan sesuai dengan kebutuhan bangsa ini adalah tujuan kita bersama. Untuk itu, dalam memandang dan menyelesaikan berbagai macam masalah dan problematika pendidikan yang ada di Indonesia, kita harus menyikapinya secara menyeluruh, tidak bisa hanya salah satu atau sebagian saja. Setiap komponen yang ikut menentukan kualitas pendidikan di Indonesia harus sama-sama dibenahi, mulai dari visi yang ingin dicapai, kurikulum pendidikan, kualitas pengajar, sarana dan prasarana pendidikan, sampai kepada keadan peserta didik itu sendiri.
Kalau boleh saya menarik sebuah analogi, sistem pendidikan itu ibarat sebuah rangkaian perjalanan yang wajib dipersiapkan segalanya sebaik mungkin apabila ingin mencapai tujuan yang hendak dicapai. Rangkaian itu antara lain:
1. Visi, itu ibarat tujuan/lokasi yang hendak dituju, ingin seperti apa dan ingin menghasilkan apa pendidikan kita dalam jangka pendek, menengah, dan jangka panjang.
2. Kurikulum, itu ibarat sebuah buku pedoman atau peta penunjuk jalan, harus bagaimana kita melangkah dan harus melalui jalur mana dan bagaimana untuk mencapai tujuan itu.
3. Kualitas Pengajar/guru, mereka ibarat supir yang akan membawa atau mengatur kendaraan menuju lokasi tujuan dengan berpedoman kurikulum atau peta pedoman tadi. Mereka inilah faktor penentu sampai atau tidak, cepat atau lambat sampai di lokasi tujuan (visi).
4. Sarana Fisik Pendidikan, ini ibarat kendaraan yang akan digunakan. Kalau kendaraan baik dan terawat, maka perjalanan akan lancar dan mudah sampai di tujuan. Sebaliknya, jika kendaraan rusak atau terbengkalai, maka perjalanan akan menemui banyak kendala.
5. Peserta didik, mereka ini ibarat penumpang yang akan kita antarkan untuk sampai dengan tepat di tujuan yang telah ditetapkan.
Melalui tulisan ini, izinkan saya untuk menjabarkan secara singkat pandangan dan mungkin solusi saya mengenai kelima hal pokok di atas yang menentukan dalam sebuah proses pendidikan.
1. Visi Pendidikan Indonesia
Seperti yang telah saya jabarkan di atas, visi ini adalah tujuan. Pemerintah, dalam hal ini kementerian pendidikan dan kebudayaan wajib untuk menentukan arah yang jelas, apa yang hendak dicapai dan output seperti apa yang hendak dihasilkan dari sebuah proses pendidikan di Indonesia. Dan yang terpenting menurut saya adalah penyatuan visi untuk seluruh wilayah di Indonesia. Jangan sampai masing-masing daerah ini seperti bergerak sendiri-sendiri tanpa arah tujuan yang jelas. Penyatuan visi ini nantinya  diharapkan dapat menghasilkan lulusan atau sumber daya manusia yang berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan bangsa dan negara Indonesia.
Setelah menentukan satu visi yang pasti, tugas pemerintah selanjutnya adalah memastikan agar visi ini tersampaikan dan diketahui dengan baik oleh seluruh pemangku kepentingan pendidikan di seluruh wilayah Indonesia, seperti Gubernur, Kepala Dinas, sampai kepada guru-guru atau para pengajar yang langsung bersentuhan dengan peserta didik. Atau mungkin, peserta didik itu sendiri juga perlu untuk mengetahui visi pendidikan di Indonesia. Jika semua pihak telah mengetahui serta memahami visi atau tujuan yang hendak dicapai, diharapkan proses belajar-mengajar di sekolah-sekolah nantinya bukan hanya sebuah formalitas atau sebuah kegiatan rutin yang tanpa arah, namun diharapkan semua pihak mampu untuk bekerja sama dan saling berintegrasi untuk sama-sama mencapai tujuan tersebut.
Pemahaman akan visi ini juga teramat penting dimiliki oleh seorang guru yang mengajar di sekolah, karena mereka adalah pilar terdepan dalam menyukseskan berbagai program-program pendidikan di Indonesia. Ketika seorang guru telah memahami visi yang hendak dicapai, maka mereka akan merasa memiliki tanggung jawab besar untuk membantu anak didik mereka menggapai apa yang dicita-citakan, sehingga seorang guru tidak hanya mengajar, memberi materi, dan tidak asal “yang penting murid saya lulus semua”, tetapi mereka ikut merasa bertanggung jawab akan seperti apa anak didik mereka setelah lulus nanti.
2.Kurikulum
Menggunakan pedoman kurikulum inilah, seorang guru mengambil acuan dalam merencanakan dan membuat program-program yang akan mereka terapkan di dalam proses belajar mengajar sehari-hari di sekolah. Untuk itu, seharusnya kurikulum pendidikan di Indonesia harus dibuat dengan memperhatikan dan menampung aspirasi dari para guru tersebut.
Berbeda dengan penetapan visi yang bisa dilakukuan atau direncanakan oleh tingkat pusat saja, dalam penetapan atau pembentukan sebuah kurikulum, pemerintah haruslah mau mendengarkan suara-suara dari seluruh daerah yang ada di Indonesia dan juga memperhatikan kebutuhan masyarakat, karena tiap-tiap daerah mempunyai karakteristik masing-masing. Pembentukan kurikulum janganlah sentralistik dilakukan hanya di Jakarta saja, karena belum tentu daerah-daerah lainnya bisa mengikuti dan menyesuaikan dengan baik. Karenanya kedepan, pemerintah bisa mengundang perwakilan para guru dari seluruh daerah di Indonesia dengan membawa aspirasinya masing-masing, sehingga bisa dibentuk sebuah kurikulum yang sesuai kebutuhan di bawah, fleksibel, dan bisa diterapakan di masing-masing daerah.
Demi mendapatkan sebuah pendidikan yang berkualitas, haruslah dibentuk sebuah kurikulum yang lebih menekankan pada interaksi dua arah antara guru dengan murid. Jangan lagi sebuah kurikulum dengan sistem Top-Down, yaitu murid sebagai objek pasif yang hanya menerima saja apapun yang disampaikan guru kepada murid, otak murid seperti brangkas ilmu yang diisi oleh guru, murid hanya menampung apa saja yang disampaikan oleh guru. Menurut saya, sistem seperti ini mungkin memang bisa menghasilkan orang-orang cerdas, namun tidak akan bisa untuk menghasilkan orang-orang kreatif. Mungkin perlu dibentuk sebuah kurikulum dimana keberadaan guru di dalam kelas itu ibarat seorang moderator atau juri/wasit yang bertugas mengawasi diskusi atau interaksi diantara para peserta didik.
3. Kualitas Pengajar/Guru
Harus ada perubahan paradigma atau mindset dari para guru yang ada di republik tercinta ini jika kita ingin mendapatkan guru-guru yang berkualitas. Selama ini banyak para guru yang berpikiran bahwa menjadi seorang guru itu sama dengan profesi-profesi lainnya, berangkat bekerja, lalu mengajar dikelas, kemudian pulang kembali ke rumah, tanpa memikirkan tanggung jawab apakah murid-murid tadi sudah mengerti semua atau belum.
Harus dibentuk sebuah pemikiran bahwa menjadi guru itu pekerjaan mulia yang lebih dari profesi-profesi lainnya, karena semua profesi yang ada di dunia ini pasti berawal dari sebuah pendidikan yang diberikan oleh seorang guru. Namun saya juga memahami, bahwa guru juga merupakan manusia biasa yang tentu mempunyai banyak kebutuhan dalam hidup, inilah yang menjadi tugas pemerintah untuk menjamin kesejahteraan seorang guru. Sehingga para guru ini bisa menjalankan tugas sebaiknya-baiknya dalam mengemban amanah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, tanpa harus disibukkan dengan hal-hal lain hanya demi menambah penghasilannya.
Dalam hal belajar-mengajar sehari-hari, seorang guru haruslah mampu untuk mengenali dan menggali berbagai potensi yang ada dalam diri para peserta didiknya. Seorang guru tidak bisa hanya memaksakan kehendaknya tanpa memperhatikan kebutuhan, minat, dan bakat yang dimiliki oleh peserta didik. Seorang guru harus mampu mengenali dan menggali masalah dan potensi seorang anak. Sehingga para peserta didik akan merasa nyaman seperti berada dirumah sendiri serta akan merasa seperti berhadapan dengan orang tuanya sendiri saat berhadapan dengan gurunya di sekolah.
Uji kompetensi untuk para guru juga perlu dilakukan secara berkala, karena tantangan dan pengaruh zaman yang terus berubah dan terus bergerak, maka seorang guru tidak bisa hanya menggunakan ilmu yang itu-itu saja yang mungkin sudah berpuluh-puluh tahun lalu mereka dapatkan. Perlu ada aktualisasi diri yang dilakukan oleh para guru demi menghadapi tantangan zaman atau menghadapi tipe-tipe peserta didik yang pasti terus mengalami perubahan.
4. Sarana Fisik Pendidikan
Tujuan yang jelas, pedoman penunjuk jalan yang memadai, dan supir yang handal mungkin akan terasa percuma dan sia-sia jika kendaraan yang digunakan tidak dalam kondisi baik. Seperti itulah analogi yang mengibaratkan pentingnya sarana fisik pendidikan sebagai salah satu elemen penunjang untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas. Masih banyak masalah-masalah yang harus dihadapi oleh pemerintah dalam menjamin kenyamanan proses belajar mengajar.
Tidak perlu jauh-jauh, di Jakarta saja yang merupakan ibukota negara, masih ada sekolah-sekolah yang roboh. Kasus terakhir adalah yang menimpa SDN 03 Rawamangun, atap sekolah dasar tersebut tiba-tiba saja roboh. Banyak yang menduga itu disebabkan oleh kenakalan pemborong yang menggunakan bahan-bahan material bekas demi meraup keuntungan yang lebih besar. Menghadapi hal-hal semacam inilah diperlukan ketegasan pemerintah, termasuk keberanian pemerintah dalam melawan para mafia tanah yang banyak mengancam keberadaan gedung-gedung sekolah di beberapa daerah termasuk juga di DKI Jakarta.
Selain gedung sekolah, keberadaan sarana penunjang proses belajar mengajar lainnya disekolah juga perlu mendapatkan perhatian yang serius. Seperti kelengkapan buku di perpustakaan agar para siswa mudah untuk mendapatkan bahan bacaan, kelengkapan alat-alat dan standardisasi laboraturium ilmiah, dan juga kelengkapan laboratorium teknologi informasi dan bahasa, yang seharusnya pada era sekarang ini sudah harus dilengkapi oleh jaringan internet agar para perserta didik dapat mendapatkan informasi seluas-luasnya demi menambah wawasan mereka.
5. Peserta Didik
Seperti analogi pada pembukaan tulisan ini, peserta didik itu ibarat para penumpang yang wajib diantarkan sampai kepada tujuan. Namun terkadang para penumpang ini sering membuat gangguan dan kegaduhan yang dapat menghambat kelancaran perjalanan.
Dalam konteks nyata dunia pendidikan kita, gangguan itu adalah berupa kenakalan-kenakalan remaja pada saat ini, seperti tawuran antar palajar/mahasiswa, banyak pelajar yang bolos sekolah akibat minat belajar kurang, “trek-trekan” atau kebut-kebutan di jalan raya, dll yang bisa menghambat proses belajar-mengajar di sekolah.
Di usia-usia wajib belajar 12 tahun ini, seorang siswa memang sedang masa-masanya untuk mencari jati diri, kenakalan-kenakalan tersebut memang sudah hampir pasti akan mampir di masing-masing individu pada saat itu, jadi tidak sepenuhnya para siswa ini bisa disalahkan. Institusi sekolah dan para guru juga wajib untuk instropeksi terhadap metode pengajaran yang telah diberikan kepada para siswanya. Yang terpenting untuk dipikirkan adalah bagaimana untuk menyalurkan jiwa-jiwa muda yang sedang bergelora ini kepada hal-hal positif yang bisa mendatangkan manfaat baik untuk pribadi mereka sendiri ataupun bagi dunia pendidikan di Indonesia.
Contoh: bagi mereka yang suka tawuran atau suka berkelahi, kita buatkan saja kegiatan ekstrakurikuler tinju, kita buatkan mereka ring yang sah, sehingga mereka bisa bertarung secara sportif. Siapa tahu memang diantara mereka itu ada yang memiliki bakat untuk menjadi seorang atlet tinju.
Contoh lain, bagi mereka yang suka otomotif dengan cara yang salah, yaitu dengan “trek-trekan” atau kebut-kebutan di jalan atau bagi yang suka memodifikasi kendaraannya, kita coba saja buatkan mereka kegiatan ekstrakurikuler otomotif lengkap dengan bengkelnya sebagai laboratorium mereka untuk mencoba berinovasi. Siapa tahu dari situ mereka bisa melahirkan inovasi-inovasi baru yang mungkin berguna bagi banyak orang, seperti pelajar SMK di Solo dengan mobil Esemka-nya.
Demikianlah penjabaran singkat saya mengenai lima hal yang berperan penting dalam meningkatkan mutu pendidikan di negara Indonesia tercinta ini. Peran pemerintah saja tidak akan cukup untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas, perlu peran serta dari seluruh masyarakat Indonesia agar pendidikan di negeri ini dapat menghasilkan sumber daya manusia yang mempunyai daya saing global sehingga dapat membawa negeri ini menuju kejayaan dan kemakmuran. Dan semoga saja Gerakan Indonesia Berkibar ini bisa menjadi salah satu wadah partisipasi masyarakat luas dan juga garda terdepan dalam mendukung kemajuan pendidikan di Indonesia. Amiinnn.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar